BAB
II
LANDASAN
TEORI
A.
Pengertian
Hubungan Sekolah dan Masyarakat (Humas)
Hubungan lembaga pendidikan dan
masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara lembaga pendidikan dan
masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap
kebutuhan dan praktek pendidikan dan pada akhirnya bekerjasama untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di lembaga pendidikan (Maisyaroh, 2004:3)
Menurut kamus
Fund and Wagnel Pengertian Humas adalah segenap kegiatan dan teknik/kiat yang
digunakan organisasi atau individu untuk menciptakan atau memelihara suatu
sikap dan tanggapan yang baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan
aktivitasnya. Sedangkan pengertian Humas dalam Pendidikan adalah Rangkaian
pengelolaan yang berkaitan dengan kegiatan hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat (orang tua murid) yang dimaksudkan untuk menunjang proses belajar
mengajar di lembaga pendidikan bersangkutan
(Ardiansyah: 2011).
Berdasarkan
definisi di atas
pengertian humas secara
umum adalah fungsi yang khas antara organisasi dengan publiknya, atau dengan
kata lain antara lembaga pendidikan dengan warga di dalam (guru, karyawan,
siswa) dan warga dari luar (wali siswa, masyarakat, institusi luar, patner
sekolah). Dalam konteks ini jelas bahwa humas atau Public Relation (PR) adalah termasuk salah satu elemen yang penting
dalam suatu organisasi kelompok ataupun secara individu. Adapun pengertian
manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan,
pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius
dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga
yang diwakilinya.
B.
Tujuan
Hubungan Sekolah dan Masyarakat (Humas)
Mengenai tujuan hubungan sekolah dan masyarakat (orang tua
murid), Leslie (dalam Indrafachrudi: 1994) merumuskan tujuan organisasi
perkumpulan antara guru dan masyarakat (orang tua murid), adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengembangkan pengertian
masyarakat (orang tua murid) tentang tujuan dan kegiatan pendidikan di sekolah.
2. Untuk memperlihatkan bahwa rumah dan
sekolah bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak di sekolah.
3. Untuk membari fasilitas pertukaran
informasi antara orang tua dan guru yang kemudian mempunyai dampak terhadap
pemecahan pendidikan anak.
4. Perolehan opini masyarakat tentang
sekolah dijadikan perencanaan untuk pertemuan dengan orang tua dalam rangka
untuk kebutuhan murid-murid.
5. Untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan pribadi anak.
C.
Penyusunan
Program Hubungan Sekolah dan Masyarakat (Humas)
Menurut Nasution (2006) untuk
menentukan strategi dalam kegiatan humas pada lembaga pendidikan yang akan
dilakukan terlebih dahulu memperhitungkan:
1. “Tujuan”
apa yang hendak dicapai sesuai dengan perencanaan yang telah diperhitungkan
dengan baik oleh pihak-pihak terlibat dalam manajemen lembaga pendidikan;
2. “Strategi”
apa dan bagaimana yang dipergunakan dalam perencanaan;
3. “Program
kerjanya” apa yang akan dilakukan dan dijabarkan sesuai langkah-langkah yang
telah dijadwalkan;
4. Menentukan
“anggaran” atau “dana” yang sudah dipersiapkan, serta “daya” sebagai pendukung
yang bersifat khusus.
Strategi
humas ini adalah suatu cara alternatif optimal yang dipilih untuk melaksanakan
atau ditempuh guna mencapai tujuan humas dalam kerangka suatu rencana humas.
Untuk melaksanakan strategi humas menurut Ruslan (2001) dalam Nasution (2006)
harus diupayakan sebagai berikut;
1. Menempatkan
posisi humas dekat dengan pimpinan lembaga pendidikan agar humas mengetahui secara
jelas dan rinci mengenai pola perencanaan, kebijakan, keputusan yang diambil,
visi dan arah tujuan lembaga pendidikan bersangkutan, agar tidak terjadi
kesalahan dalam penyampaian pesan dan informasi yang berasal dari lembaga
pendidikan kepada masyarakat;
2. Humas
dalam memberikan informasi mewakili lembaga pendidikan tersebut dapat
dipertegas tentang batas-batas wewenang dan tanggungjawab dalam memberikan
keterangan (sebagai juru bicara);
3. Pimpinan
atau staf humas selalu diikutsertakan
menghadiri setiap rapat atau pertemuan pada tingkat pimpinan agar dapat
mengetahui secara langsung dengan tepat tentang “latar belakang” suatu proses
perencanaan, kebijaksanaan, arah dan hingga tujuan organisasi yang hendak
dicapai, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang;
4. Agar
humas humas diberi fungsi koordinasi berhubungan secara langsung dan segera
dengan pimpinan puncak (rektor/direktur/kepala sekolah), tanpa melalui
perantara pejabat/bagian lain;
5. Humas
harus bertindak secara proaktif dan dinamis serta fleksibel sebagai narasumber
atau mengatur saluran komunikasi baik ke dalam maupun ke luar;
6. Humas
berperan melakukan tindakan mulai dari memonitor, merekam, menganalisis,
menelaah, hingga mengevaluasi setiap reaksi feedback;
7. Humas
dapat memberikan sumbang saran, ide, dan rencana/program kerja kehumasan untuk
memperbaiki/mempertahankan nama baik, kepercayaan, dan citra perusahaan
terhadap publiknya.
Berdasarkan
strategi yang harus diupayakan para praktisi, humas di lembaga pendidikan
diperlukan beberapa pendekatan agar strategi tersebut bisa berjalan dengan
lancar antara lain; pendekatan kemasyarakatan, pendekatan persuasif, sosial,
kerjasama yang harmonis, dan koordinasi.
1.
Merencanakan
Program Kerja Humas
Tujuan
umum dari merencanakan program kerja dalam manajemen Humas adalah bagaimana
upaya menciptakan hubungan harmonis antara lembaga pendidikan yang diwakilinya
dengan masyarakat atau stakeholder, agar
tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Hal itu berkaitan dengan kemampuan staf
Humas dalam manajemen teknis dan sebagai keterampilan manajerial, serta penuh
konsentrasi dari pihak praktisi Humas untuk mengelola program kerja Humas dalam
upaya pencapaian tujuan atau sasaran sebagaimana yang direncanakan.
Langkah-langkah
kegiatan Humas dalam merencanakan program kerja menurut Rosady (2001) dalam
Nasution (2006) ada beberapa tahapan sebagai berikut;
a. Menganalisis
perilaku umum dan hubungan organisasi terhadap lingkungan;
b. Menentukan
dan memahami secara benar perilaku tiap-tiap kelompok terhadap organisasi;
c. Menganalisis
tingkat opini publik, baik ke dalam maupun ke luar;
d. Mengantisipasi
kecenderungan masalah yang potensial, kebutuhan, dan kesempatan;
e. Menentukan
formulasi dan merumuskan kebijakan;
f. Merencanakan
alat atau cara yang sesuai untuk meningkatkan atau mengubah perilaku kelompok
masyarakat sasaran;
g. Menjalankan
dan melaksanakan aktivitas sesuai dengan program yang direncanakan;
h. Menerima
umpan balik untuk dievaluasi, kemudian mengadakan penyesuaian yang diperlukan.
2.
Menyusun
Rencana Program Kerja Humas
Semua
kegiatan Humas terlebih dahulu hendaknya disusun melalui rencana program kerja
Humas dalam program rutin (jangka pendek) dan program kerja insedentil (jangka
panjang). Dalam implementasi program kerja harus dilaksanakan secara terus
menerus dan kronologis. Adapun program kerja yang akan dilaksanakan menurut
Nasution (2006) dapat dibagi menjadi 2 kegiatan yakni:
a. Program
Kerja Rutin
Program kerja rutin
adalah kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan kronologis.
b.
Program Kerja
Insidentil
Program kerja insidentil
adalah kegiatan yang dilaksanakan pada periode tertentu. Program kerja ini pada
prinsipnya membantu pelaksanaan semua program kerja yang dilaksanakan kantor
pusat dalam bidang komunikasi dan publikasi untuk semua warga
sekolah/organisasi pendidikan maupun masyarakat luas.
D.
Teknik-Teknik Hubungan Sekolah dan
Masyarakat
Ada banyak teknik
pelaksanaan program hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat. Agar penerapan
teknik berhasil, lembaga pendidikan perlu memperhatikan komitmen masyarakat
terhadap pendidikan. Kalau komitmen masyarakat masih belum muncul maka perlu
dibangkitkan komitmennya. Masyarakat perlu disentuh hatinya agar mereka merasa
perlu pendidikan. Tidak ada Negara maju tanpa keberadaan lembaga pendidikan
yang berkualitas. Lembaga pendidikan yang berkualitas tentunya membutuhkan uluran tangan
dari berbagai pihak, baik dari segi biaya, tenaga maupun pemikiran yang
cemerlang demi kemajuan lembaga pendidikan. Kalau kegiatan pembelajaran ingin
berkualitas, maka sumber belajar juga harus lengkap, guru harus berkualitas.
Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, pepatah jawa mengatakan “jer
basuki mawa bea”. Setiap kegiatan yang berkualitas butuh biaya. Kalau sesuatu
ingin baik maka perlu disediakan biaya yang banyak.
Sebenarnya meskipun biaya
pendidikan mahal, masyarakat tidak akan dirugikan. Pada dasarnya kalau
pendidikan berkualitas maka yang memetik hasilnya adalah masyarakat. Misalnya,
lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dalam
bidang penguasaan teknologi informasi, maka pihak pemakai lulusan akan
memperoleh keuntungan. Tenaga yang mampu dan terampil dapat meningkatkan
efektivitas dan efisiensi perusahaan atau pengguna lulusan yang lain.
Untuk itu hal yang perlu dilakukan
lembaga pendidikan adalah meyakinkan kepada masyarakat bahwa pendidikan yang
berkualitas itu penting dan perlu terwujud pada setiap lembaga pendidikan.
Langkah awal yang dapat dilakukan agar masyarakat merasakan perlunya pendidikan
yang berkualitas yaitu penerapan pendekatan budaya. Dalam pendekatan budaya
masyarakat diajak untuk mengetahui dan mengenal pendidikan, meyakini manfaat
pendidikan, dan percaya terhadap mutu pendidikan. Dengan proses ini diharapkan
masyarakat merasa bahwa pendidikan mutlak diperlukan.
Menurut Maisyaroh (2004:23-24)
teknik penyelenggaraan hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat dapat
dikelompokkan menjadi empat, yaitu teknik pertemuan kelompok, teknik tatap
muka, observasi dan partisipasi, surat menyurat dengan berbagai pihak yang
dapat dikaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan.
1. Teknik
Pertemuan Kelompok
Teknik pertemuan kelompok dapat
berupa diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, rapat dan sebagainya. Yang
dilibatkan dalam pertemuan kelompok adalah guru, staf tata usaha, tokoh
masyarakat, staf dari instansi yang terkait dengan penyelenggaraan program
pendidikan, pengguna lulusan, guru/dosen dari lembaga pendidikan lain, dokter,
dan sebagainya. Ragam unsur yang dilibatkan didalam kegiatan ini tergantung
dari tema yang sedang dibahas. Tema yang dibahas bisa berkaitan dengan
peningkatan kemampuan staf sekolah, peningkatan kemampuan siswa, pengembangan
sarana dan prasarana sekolah, optimalisasi perlibatan masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan dan juga dikembangkan tema yang menarik sesuai
kondisi yang ada.
2. Teknik
Tatap Muka
Teknik tatap muka dilakukan antara
pihak lembaga pendidikan dan masyarakat secara individual. Pihak lembaga
pendidikan dapat berkunjung ke rumah siswa yang menghadapi masalah. Pihak
lembaga pendidikan dapat memanggil orangtua atau wali siswa yang bermasalah
atau siswa yang memiliki kemampuan lebih dan perlu pembinaan bersama agar
kemampuannya dapat berkembang secara maksimal.
3. Obvserasi
dan Partisipasi
Observasi dan partisipasi
masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan perlu dilakukan. Sekolah perlu
member kesempatan kepada masyarakat untuk menunjungi, mengobservasi, dan
berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Orangtua siswa dapat mengunjungi sekolah
untuk mengobservasi proses belajar siswa. Orangtua memiliki keterampilan
tertentu dapat membantu guru mengajar. Dalam hal ini orangtua sebagai
narasumber pembahasan materi tertentu. Melalui kegiatan ini diharapkan
masyarakat mengetahui secara langsung hambatan dan faktor pendukung
penyelenggaraan pendidikan, masyarakat mengetahui keberhasilan lembaga
pendidikan, akhirnya masyarakat diharapkan mau membantu pelaksanaan pendidikan
di lembaga pendidikan.
4. Surat
Menyurat dengan Berbagai Pihak yang Terkait dengan Penyelenggaraan Pendidikan
Surat menyurat sudah lazim
dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan. Selain biaya yang cukup murah, teknik
ini dianggap mampu dilakukan setiap lembaga yang sederhana maupun lembaga yang
sudah besar perkembangannya.
Dipihak lain, secara teoritis
Layanan Riset Pendidikan dan Asosiasi Nasional Kepala Pendidikan Dasar di Alexandria
merumuskan berbagai teknik untuk meningkatkan keterlibatan berbagai pihak dalam
menyelenggarakan pendidikan (dalam Maisyaroh, 2004:23). Teknik yang dimaksud dapat
dikemukakan dengan asosiasi:
a. Layanan
masyarakat
Pihak lembaga pendidikan mempelajari
kebutuhan masyarakat, melihat dan menganalisis apa yang bisa dilakukan lembaga
pendidikan untuk membantu memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
b. Program
pemanfaatan alumni sekolah
Para alumni dapat dilibatkan dalam
kegiatan sekolah, misalnya menjadi pembicara dalam kegiatan seminar-seminar di
sekolah, keberhasilannya dalam menempuh karir dapat diinformasikan kepada
peserta didik agar bersemangat dalam belajarnya, dapat menentukan karir, dan
meningkatkan kemampuannya sehingga bisa sukses seperti kakak kelasnya yang
telah lulus.
c. Masyarakat
sebagai model
Masyarakat menjadi model peserta
didik di sekolah terutama masyarakat yang telah berhasil dalam kehidupannya.
d. Pemberian
kesempatan kepada masyarakat
Lembaga
pendidikan memberi kesempatan kepada masyarakat secara sukarela untuk membantu
kegiatan lembaga pendidikan.
e. Pengiriman
pembicara
Anggota staf lembaga pendidikan yang berminat diberi
kesempatan untuk mempromosikan program dan prestasi lembaga pendidikan ke
masyarakat.
f. Masyarakat
sebagai sumber informasi
Pihak
lembaga pendidikan menanyakan kepada anggota masyarakat tentang isu-isu hangat
terkait dengan pengembangan lembaga, hasilnya dibuat semacam rekomendasi untuk
pengembangan lembaga pendidikan.
g. Diskusi
Panel
Siswa,
ortu siswa, staf sekolah dan pekerja yang lain, anggota masyarakat mengadakan
pertemuan untuk menindak lanjuti kegiatan lembaga pendidikan agar semua usaha
yang telah dilakukan dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.
Untuk menggambarkan keadaan sekolah kepada masyarakat ada
beberapa cara atau metode yang lain. Gambaran tersebut diharapkan tercipta hubungan yang
lebih erat antara sekolah dengan masyarakat. Menurut Indrafachrudi (dalam
Soetopo dan Soemanto, 1982: 246) ada 11 teknik yang dapat dilakukan untuk
memberikan gambaran tentang sekolah yang perlu diketahui oleh masyarakat,
yaitu:
1. Laporan Kepada Orangtua Murid
Laporan
yang diberikan oleh sekolah kepada masyarakat berisi laporan tentang kemajuan
anak, aktivitas anak di sekolah, kegiatan sekolah sendiri, dan segala sesuatu
yang terjadi di sekolah sehubungan
dengan pendidikan anak. Laporan ini dapat dilakukan setiapsemester. Laporan
tersebut tidak berupa angka-angka akan tetapi menyangkut informasi yang
bersifat diagnosik. Artinya dalam laporan tersebut dicantumkan juga kelebihan
dan kelemahan anak, disertai dengan jalan pemecahan yang kiranya dapat
dilakukan oleh orangtua dalam ikut membantu kesuksesan belajar anak.
2. Bulletin Bulanan
Bulletin
bulanan dapat diusahakan oleh guru, staf sekolah dan para orangtua yang dapat
diterbitkan satu bulan sekali. Isi bulletin sekolah ini adalah tentang kegiatan
sekolah, artikel-artikel guru dan juga murid, pengumuman-pengumuman sekolah
berita-berita masyarakat yang perlu diketahui sekolah dan sebagainya. Di
samping bulletin, sekolah dapat pula menerbitkan “Booklet” yaitu buku kecil yang diberikan kepada keluarga yang
anaknya sekolah di sekolah tersebut. Isi “Booklet”
adalah petunjuk cara belajar di sekolah yang bersangkutan, fasilitas sekolah,
kurikulum yang dipakai, keadaan sekolah dan sejarahnya. Pengurus sekolah dan
pengurus OSIS, kemajuan dan aktivitas sekolah selama ini dan program kerja pada
saat itu.
3. Penerbitan Surat Kabar
Apabila
dimungkinkan, sekolah dapat menerbitkan surat kabar sekolah. Isinya menyangkut
segala aspek yang menunjang kesuksesan program pendidikan. Artikel-artikel yang
dimuat harus berkaitan dengan dunia pendidikan sesuai dengan bidang yang
dipelajari peserta didik. Berita-berita yang dimuat hendaknya juga
berita-berita yang memiliki nilai didik.
4. Pameran Sekolah
Pameran
sekolah merupakan metode yang sangat efektif untuk memberikan gambaran tentang
keadaan sekolah dengan berbagai aktivitasnya. Masyarakat dapat melihat secara
langsung keadaan sekolah dengan mengunjungi pameran tersebut. Tempat penyelenggaraan
pameran dapat di dalam atau di luar kelas yaitu di halaman sekolah. Bahkan
dapat juga dapat dilakukan di luar sekolah. Tentu yang terakhir ini memerlukan
pengelolaan yang lebih rumit. Barang-barang yang dapat dipamerkan dapat berupa
hasil karya siswa dan guru, alat-alat peraga dan hasil panenan kebun atau sawah
(bila ada).
5.
Open House
”Open House” merupakan suatu metode mempersilakan masyarakat yanng
berminat untuk meninjau sekolah serta mengobservasi kegiatan dan hasil kerja
murid dan guru yang diadakan pada waktu yang telah terjadwal. Pada saat itulah
masyarakat dapat melihat secara langsung proses belajar mengajar yang
berlangsung di sekolah. Dari gambaran ini masyarakat dapat memberikan penilaian
atas pelaksanaan pendidikan di sekolah tersebut. Masyarakat juga dapat
mengontrol sekolah dengan memberikan bantuan kepada sekolah baik berupa
material maupun spirit, karena mereka merasa ikut bertanggungjawab atas
pendidikan anak-anaknya di sekolah, walaupun tanggungjawab masyarakat ini tidak
terumuskan secara formal.
6. Kunjungan Ke Sekolah (School
Visitation)
Kunjungan
orang tua murid ke sekolah pada saat pelajaran berlangsung yang dimaksudkan
agar para orangtua murid berkesempatan melihat anak-anaknya pada waktu
mangikuti pelajaran. Di samping itu orang tua dapat melihat kegiatan anak di
laboratorium, di bengkel atau di kebun. Kunjungan orangtua ini dapat dilakukan
oleh para orangtua sewaktu-waktu, sehingga mereka dapat melihat kewajaran yang
terjadi di sekolah itu.
7. Kunjungan Ke Rumah Murid (Home Visitation)
Kunjungan
ke rumah murid dilakukan untuk melihat latar belakang kehidupan murid di rumah.
Penerapan metode ini akan mempererat hubungan antara sekolah dengan orang tua
murid, di samping itu dapat menjalin silaturahim antara guru dengan orangtua
murid. Masalah-masalah yang dihadapi murid di sekolah dapat dibicarakan secara
kekeluargaan dan persahabatan intim. Kunjungan ke rumah orangtua murid harus
direncanakan dan harus mengemban policy
sekolah. Jadi tidak boleh dilakukan di luar kepentingan anak didik.
8. Melalui Penjelasan Oleh Staf Sekolah
Kepala
sekolah hendaknya berusaha agar semua personel sekolah turut aktif mengambil
bagian dalam penyuksesan program hubungan sekolah dengan masyarakat. Para
personel sekolah dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang
kebijakan sekolah, organisasi sekolah dan semua kegitan sekolah. Kepala sekolah
dapat menambahkan loyalitas para staf dengan mengikutsertakan mereka dalam
setiap kegiatan dan menghargai prestasi yang telah mereka capai.
9. Gambaran Keadaan Sekolah Melalui Murid
Murid
dapat juga mendorong untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang
keadaan sekolah. Jangan sampai murid-murid menyebarkan isu-isu yang tidak baik
mengenai sekolah.
10. Melaui Media Elektronik
Media
elektronik mempunyai daya yang kuat dalam menyebarkan pengaruh informasi yang
disiarkan. Melalui media elektronik ini masyarakat akan lebih mengenal situasi
dan kondisi perkembangan sekolah. Melalui media elektronik ini dapat
menyampaikan berita-berita dan pengumuman yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pendidikan, termasuk apabila ada permohonan sumbangan dari pihak sekolah. Media
elektronik dapat berupa televisi, radio, telepon, handphone, internet, email,
website dan lain-lain.
11. Laporan Tahunan
Laporan
tahunan disusun oleh kepala sekolah untuk diberikan kepada penilik sekolah atau
kepada Kantor Departemen P dan K kecamatan yang mewadahinya atau kepada atasan
langsungnya. Isi laporan tahunan tersebut mencakup kegiatan yang telah
dilakukan, kurikulum, personalia, anggaran dan situasi murid.
Cara
lain yang diungkapkan oleh Indrafachrudi (1976:132), dapat dilakukan dengan
cara:
1. Organisasi perkumpulan alumni sekolah
Organisasi
ini merupakan alat yang baik untuk dimanfaatkan dalam memelihara serta
meningkatkan hubungan antara sekolah dengan masyarakat. Murid-murid yang sudah
tamat sekolah biasanya mempunyai kenang-kenangan dari sekolahnya dan mereka
merasa berkewajiban moral untuk membantu sekolahnya baik berupa materiil maupun
moril.
2. Organisasi orangtua murid (Komite Sekolah)
Komite Sekolah adalah badan mandiri
yang mewadahi peran serta masyarakat dalam
rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan
pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun
jalur pendidikan luar sekolah. Nama
badan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing satuan
pendidikan, seperti Komite Sekolah, Komite Pendidikan, Komite Pendidikan Luar
Sekolah, Dewan Sekolah, Majelis Sekolah (Kemediknas RI UU 044/2/2002).
E.
Teknik-Teknik Hubungan Sekolah dan
Masyarakat dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri (DU/DI) Perusahaan
Menurut Buchori (dalam Suparlan, 2005), Sekolah tidak dapat
dikatakan sebagai suatu lembaga sosial yang berdiri sendiri, terlepas dari
lembaga-lembaga sosial lain. Sekolah harus dipandang sebagai suatu bagian yang
tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang ada di sekitarnya, baik masyarakat
lokal, maupun masyarakat daerah atau masyarakat nasional.
Menurut Anwaruhamka (2010), pembangunan merupakan proses terus menerus
untuk mencapai kesempurnaan. Pembangunan di Indonesia mencakup berbagai sektor
salah satu diantaranya adalah sektor pendidikan. Peranan sektor pendidikan
dalam mempersiapkan sumber daya tersebut diatas tidak dapat diabaikan. Program
pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan pasar kerja. Demikian pula produk
yang dihasilkan oleh dunia usaha merupakan konsumsi masyarakat luas. Dengan
demikian proses pelatihan akan memberi arti pada pencapaian tujuan pendidikan
nasional.
Dengan kebijaksanaan Dinas Pendidikan nasional tentang pendekatan
Pendidikan dengan Sistem Ganda sebagai pola utama penyelenggaraan Kurikulum
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kualitas tamatan agar lebih sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Pembangunan
Nasional pada umumnya, dan kebutuhan ketenaga kerjaan pada khusunya, sebagai
bagian tak terpisahkan dari kebijaksanaan Link and Macth yang
berlaku bagi semua jenis jenjang pendidikan di Indonesia. Munculnya gagasan Link
and Macth (keterkaitan dan kesepadanan) ternyata telah membuka peluang
bagi pihak pelaksana pendidikan khususnya Pendidikan Menengah Kejuruan untuk
memungkinkan bekerja sama dengan Dunia Usaha dalam membina dan mengembangkan
potensi di lapangan.
Link and Macth juga memberi
kesempatan bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan untuk mengembangkan
kreatifitas belajar pada wahana pendidikan yang lebih realistis. Pihak Sekolah
Menengah Kejuruan harus dapat memanfaatkan Dunia Usaha ini sebagai wahana
pelatihan yang paling efektif bagi pembentukan ketrampilan dan sikap
profesional para lulusan.
Dengan adanya kesepakatan kerjasama antara pihak sekolah dengan
Dunia Usaha maka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) para peserta didik di Sekolah
Menengah Kejuruan akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai
persiapan memasuki bursa kerja. Proses kegiatan Belajar Mengajar seperti ini
disebut Pendidikan Sistem Ganda.
Pada prinsipnya Pendidikan Sistem Ganda adalah kerja sama dengan
Dunia Usaha/Dunia Industri yaitu saling membantu, saling mengisi dan saling
melengkapi untuk meraih keuntungan bersama. Selagi Pendidikan Sistem Ganda tidak
menjadi beban Dunia Usaha/Dunia Industri, kerja sama tersebut dapat ditumbuh
kembangkan sekaligus sebagai wujud atau peran serta Dunia Usaha/Dunia Industri
dalam pembangunan nasional pada umumnya dan pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda
khusunya.
Dalam pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda guru merupakan kunci
keberhasilan pendidikan formal sebab secara dinamis tuntutan mutu lulusan
Sekolah Menengah Kejuruan dipengaruhi oleh kualitas gurunya. Perkembangan
teknologi di Dunia Usaha dan Dunia Industri sangat pesat maka dirasakan lulusan
Sekolah Menengah Kejuruan masih perlu secara dinamis ditingkatkan kemampuannya
agar memenuhi kesempatan kerja.
Disadari bahwa penyiapan Sumber Daya Manusia yang tangguh sebagai
modal pembangunan yang produktif adalah menjadi tanggung jawab bersama
pemerintah, masyarakat dan keluarga. Maka dukungan semua pihak untuk
menyelenggarakan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan yang dapat
menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan misinya yang diperlukan.
Kreatifitas guru dalam mempersiapkan bahan ajar sangat menentukan kebutuhan
pengetahuan sebagai kesiapan diri pada peserta didiknya untuk memasuki lapangan
kerja dan kehidupan masyarakat dikemudian hari.
Penguatan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat (terutama
masyarakat DUDI), diharapkan dapat ikut mendorong dan meningkatkan mutu layanan
pendidikan yang ada di daerah. Perlu kita ketahui bahwa syarat utama yang
diperlukan untuk membangun kepercayaan dari pihak DUDI, tidak lain adalah
adanya transparansi, demokratiasi, dan akuntabelitas yang dilakukan oleh semua
komponen pendidikan, termasuk di dalamnya Dewan Pendidikan, sebagai lembaga
mandiri, wadah peran serta masyarakat (Suparlan, 2005)
DAFTAR RUJUKAN
Anwaruhamka.
2010. Peran dunia Usaha dan Dunia Industr
(Online) (http://www.anwaruhmkablogspot.com/2010/10/PERAN DUNIA USAHA DAN DUNIA
INDUSTRI (DUDI) DALAM DUNIA PENDIDIKAN _ Anwaruhamka20's Blog.html)
Ardiansyah , M. Asrori. 2011. Teknik-teknik Humas Pendidikan. (Online) (http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/teknik-teknik-humas-pendidikan_22.html).
Indrafachrudi, Soekarto dan Frans
Mataheru. 1976. Administrasi Sekolah.
Malang: IKIP Malang.
Indrafachrudi, Soekarto. 1994. Bagaimana
Mengakrabkan Sekolah dengan Orang tua Murid dan Masyarakat. Malang: IKIP.
Maisyaroh.
2004. Buku Ajar Manajemen Hubungan
Masyarakat. Malang: Universitas Negeri Malang.
Nasution,
Zulkarnain. 2006. Manajemen Humas di
Lembaga Pendidikan. Malang: UMM Press.
Soetopo, Hendyat dan Wasty Soemanto.
1982. Pengantar Operasional Administrasi
Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Suparlan. 2005. Peran Dunia Usaha dan Dunia
Industri dalam bidang Pendidikan (Online) (http://www.suparlan.com/ Peran
Dunia Usaha dan Dunia Industri dalam Bidang Pendidikan _ Suparlan.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar