BAB II
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Behavioristik merupakan aliran psikologi yang memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam kegiatan belajar (Suyono dan Hariyanto, 2011: 58). Belajar menurut psikologi behaviorisme adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan oleh lingkungan.Oleh karena itu, teori ini juga dikenal dengan teori conditioning (Imron, 1996: 5).
Beberapa ciri-ciri teori behaviorisme diantaranya adalah:
· Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
· Bersifat mekanistis
· Menekankan peranan lingkungan
· Mementingkan pembentukan respon
· Menekankan pentingnya latihan (Suyono dan Hariyanto, 2011: 58).
Proses belajar yang dilaksanakan ialah dengan cara melatih dan membiasakan sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai oleh individu. Para ahli teori behavioristik mengatakan bahwa belajari alah perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dan respon (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output berupa respon (Suyono dan Hariyanto, 2011:59).
Suyono dan Hariyanto (2011: 59) juga menyebutkan bahwa objek penelitian umumnya berupa binatang, selanjutnya respon oleh binatang ini diasumsikan juga akan terjadi pada manusia dalam kondisi pembelajaran yang analog.
Secara umum konsep belajar menurut para behavioris seperti dinyatakan dalam Suyono dan Hariyanto (2011: 58) dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.1 KonsepDasarPerilakuBelajarMenurutBehaviorisme
Ada beberapa tokoh yang mengembangkan teori Behavioristik ini dan menghasilkan beberapa teori dan hukum belajar. Beberapa tokoh tersebut diantaranya adalah:
1. Edward Lee Thorndike denganteori koneksionisme.
2. Ivan Pavlov dengan teori classical conditioning.
3. John B. Watson dengan teori conditioning.
4. Clark Hull dengan teori systematic behavior .
5. Edwin Guthrie dengan teori conditioning.
6. Burr Federic Skinner dengan teori operant conditioning.
Teori belajar Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun behavioristik. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu interaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
Menurut Thorndike, belajar dapat dilakukan dengan mencoba-coba (trial and error). Hal ini dilakukan manakala seseorang tidak tahu bagaimana harus memberikan respon terhadap sesuatu. Dalam mencoba-coba ini seseorang mungkin akan menemukan respon yang tepat atas persoalan yang dihadapinya tersebut (Imron, 1996: 8). Prosedur eksperimennya ialah membuat agar setiap binatang lepas dari kurungannya sampai ke tempat makanan. Dalam hal ini apabila binatang terkurung, maka binatang ini sering melakukan bermacam-macam kelakukan, seperti menggigit, menggosokkan badannya ke sisi-sisi kotak, dan cepat atau lambat binatang itu tersandung pada palang sehingga kotak terbuka dan binatang itu akan lepas ke tempat makanan.
Imron (1996: 8) juga menyebutkan beberapa karakteristik belajar secara trial dan error, yakni sebagai berikut:
a. Adanya motive pada diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
b. Seseorang berusaha melakukan respon-respon untuk memenuhi motifnya.
c. Respon-respon yang dianggap tidak sesuai dengan motifnya dihilangkan.
d. Akhirnya, seseorang mendapatkan respon yang paling tepat.
e. Thorndike juga mengemukakan beberapa hukumbelajar antara lain:
1) Law of Effect (hukum efek). Yakni hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) akan semakin kuat jika respon menimbulkan efek yang memuaskan. Sebaliknya, jika respon tidak menimbulkan efek yang memuaskan, maka hubungan antara S dan R akan melemah. Artinya, belajar akan lebih bersemangat jika seseorang mengetahui bahwa ia akan mendapatkan hasil yang baik.
2) Law of Readiness (hukum kesiapan). Yakni kesiapan merupakan suatu kepuasan yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak. Artinya, belajar akan lebih berhasil jika seseorang telah siap untuk melakukannya.
3) Law of Exercise (hukum latihan). Yakni hubungan antara S dan R akan semakin kuat jika sering dilatih. Sebaliknya, hubungan S dan R akan semakin lemah jika jarang dilatih. Artinya, belajar akan lebih berhasil jika banyak latihan atau ulangan-ulangan (Suyono dan Hariyanto, 2011: 61).
Teori ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme (Suyono dan Hariyanto, 2011: 61). Pavlov mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing, sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.
Makanan adalah rangsangan wajar, sedangkan sinar merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat (kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Makanan adalah rangsangan wajar, sedangkan sinar merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat (kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Teori Pavlov menghasilkan hukum belajar sebagai berikut:
a. Law of Respondent Conditioning atau hukum pembiasaan yang dituntut. Yakni apabila dua macam stimulus dihadirkan secara bersamaan (salah satunya sebagai reinforcer/reward) maka reflex dan stimulus lainnya akan meningkat.
b. Law of Respondent Extinction atau hukum pemusnahan yang dituntut. Yakni apabila refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu diulang kembali tanpa mendatangkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun (Suyono dan Hariyanto, 2011: 58).
Teori ini dikemukakan dan dikembangkan pertama kali oleh John B. Watson di AS (1878-1958). Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.
Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melalui stimulus penganti. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus dan respon yang baru melalui “conditioning”.
Salah satu percobaan yang terkenal adalah percobaan terhadap anak umur 11 bulan “Albert” dengan seekor tikus putih. Percobaan itu memiliki kesimpulan I bahwa rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstinksi, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa dibarengi stimulus tak bersyarat.
Dalam teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar.Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis.
5. Teori Conditioning(Edwin Guthrie)
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar perserta didik perlu sesering mungkin diberikanstimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap.Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut.
Edwin Guthrie mengemukakan teori kontiguiti yang memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respons tertentu.Selanjutnya Edwin Guthrie berpendirian bahwa hubungan antara stimulus dengan respons merupakan faktor kritis dalam belajar.Oleh karena itu, diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. Selain itu, suatu respons akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) apabila respons tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki kebiasaan merokok sulit ditinggalkan. Hal ini dapat terjadi karena perbuatan merokok tidak hanya berhubungan dengan satu macam stimulus (misalnya kenikmatan merokok), tetapi juga dengan stimulus lain seperti minum kopi, berkumpul dengan teman-teman, ingin tampak gagah, dan lain-lain.
Guthrie juga mengemukakan bahwa "hukuman" memegang peran penting dalam proses belajar. Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang. Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang setiap kali pulang dari sekolah, selalu mencampakkan baju dan topinya di lantai. Kemudian ibunya menyuruh agar baju dan topik dipakai kembali oleh anaknya, lalu kembali keluar, dan masuk rumah kembali sambil menggantungkan topi dan bajunya di tempat gantungannya. Setelah beberapa kali melakukan hal itu, respons menggantung topi dan baju menjadi terasosiasi dengan stimulus memasuki rumah. Meskipun demikian, nantinya faktor hukuman ini tidak dominan dalam teori-teori tingkah laku. Terutama setelah Skinner makin mempopulerkan ide tentang "penguatan" (reinforcement).
Guthrie juga mengemukakan bahwa "hukuman" memegang peran penting dalam proses belajar. Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang. Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang setiap kali pulang dari sekolah, selalu mencampakkan baju dan topinya di lantai. Kemudian ibunya menyuruh agar baju dan topik dipakai kembali oleh anaknya, lalu kembali keluar, dan masuk rumah kembali sambil menggantungkan topi dan bajunya di tempat gantungannya. Setelah beberapa kali melakukan hal itu, respons menggantung topi dan baju menjadi terasosiasi dengan stimulus memasuki rumah. Meskipun demikian, nantinya faktor hukuman ini tidak dominan dalam teori-teori tingkah laku. Terutama setelah Skinner makin mempopulerkan ide tentang "penguatan" (reinforcement).
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Siswa harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak.
6. Teori Operant Conditioning (B. F. Skinner)
Skinner merupakan behavioris yang paling akhir rmuncul. Tetapi konsep Skinner lebih unggul dari pada tokoh-tokoh sebelumnya. Teori Skinner memiliki perbedaan dari teori Pavlov. Jika pada teori Pavlov yang diberi kondisi adalah stimulus (S), maka pada teori Skinner yang diberi kondisi adalah respon (R) (Suyono dan Hariyanto. 1996: 63). Jadi misalnya, apabila seorang murid yang giatbelajar dan mampu menjawab pertanyaan dari guru diberi penghargaan oleh guru berupa hadiah atau pujian, maka murid tersebut akan semakin giat belajar.
Skinner menggunakan tikus sebagai objek penelitiannya. Dari hasil penelitiannya Skinner membedakan respon menjadi dua,yaitu respon yang timbul dari stimulus tertentu dan operant (instrumental) respons yang timbul dan berkembang karenadiikuti oleh perangsang tertentu. Oleh karena itu, teoriSkinner ini dikenal dengan operant conditioning.
Hukum-hukum belajar yang dihasilkan Skinner dari penelitiannya ialah sebagai berikut:
a. Law of Operant Conditioning, yakni apabila timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tersebut akan meningkat.
b. Law of Operant Extinction, yakni apabila timbulnya perilaku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan akan menghilang (Suyono dan Hariyanto :2011, 65).
C. DampakTeoriBehaviorismeterhadapPembelajaran
Teori behavioristik didalam pendidikan memiliki sejumlah pengikut sehingga memiliki implikasi yang nyata dalam pembelajaran. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pendidik di seluruh belahan dunia ini yang masih mempraktikkan aliran behavioristik. Teori behavioristik dengan model hubungan dari stimulus dan respon yang mendudukkan siswa sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu menggunakan metode drill atau kebiasaan semata dan juga disertai dengan reinforcement dan hukuman.
Pembelajaran yang dirancang berdasarkan teori behavioristikmemandang pengetahuan yang bersifat objektif, tetap, pasti, dan tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar merupakan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses berfikir utama siswa adalah mengcopy dan paste pengetahuan seperti apa yang dipahami pengajar.
Dalam proses belajar mengajar siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pengajar. Oleh karena itu, kurikulum dikembangkan secara terstruktur. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran terutama berupa dirasakan kurangnya memberi ruang gerak yang lebih bebas kepada siswa. Sehingga siswa kurang dapat berkreasi, berinovasi, bereksperimen dan melakukan eksplorasi untuk mengembangkan kamampuan dirinya. Selain itu, sistem pembelajaran behaviorisme amat bersifat mekanistik-otomatis. Sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensinya.
D. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Istilah-istilah seperti hubungan stimulus respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat yang paling dini, seperti kelompok bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) keorang yang belajar atau siswa. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam proses belajar mengajar, siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standart-standart tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para siswa. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat unobservable kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot.Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses belajar yang dilaksanakan menurut teori behavioristik ialah dengan cara melatih dan membiasakan diri sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai oleh individu. Para ahli teori behaviorisme mengatakan bahwa belajar ialah perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dan respon (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output berupa respon. Namun dari dampak yang ada, teori ini efektif digunakan terhadap siswa-siswa berkebutuhan khusus seperti pada pengidap autism atau pun perilaku anti sosial. Behavioristik sering diterapkan oleh guru yang menyukai pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punishment) terhadap perilaku siswa.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Untuk Guru agar dalam mengajar tidak sepenuhnya menggunakan teori ini karena tidak semuanya dapat diterapkan pada pembelajaran saat ini. Teori behavioristik cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Sehingga siswa dapat mengembangkan kreatifitas sesuai dengan kemampuannya tanpa ada paksaan dan kekangan dari pendidik.
DAFTAR RUJUKAN
Imron, Ali. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Sastrawijaya, Tresna.1988. Proses Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Derektorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar Dan Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar